Kabar gembira datang dari sektor ekonomi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM resmi mengumumkan bahwa realisasi investasi 2025 sepanjang Januari hingga Desember telah melampaui ekspektasi. Tercatat, total investasi yang masuk mencapai Rp1.931,2 triliun. Angka ini setara dengan 101,3 persen dari target yang ditetapkan Presiden, yakni Rp1.905,6 triliun. Selain itu, capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,7 persen secara tahunan (year on year).
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menyatakan rasa syukurnya. Meskipun ekonomi global tengah melambat dan diwarnai ketegangan geopolitik, Indonesia tetap mampu menjaga kepercayaan investor. "Alhamdulillah target investasi tahun 2025 tercapai dan bahkan melebihi target yang dicanangkan," jelas Menteri Rosan dengan optimis.
Hilirisasi Tumbuh Pesat dan Penyerapan Tenaga Kerja
Salah satu pendorong utama capaian realisasi investasi 2025 adalah sektor hilirisasi. Secara khusus, kontribusi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total investasi. Hebatnya, sektor ini tumbuh impresif sebesar 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hilirisasi kini tidak hanya berfokus pada mineral, tetapi juga mulai merambah ke sektor perkebunan, kehutanan, serta kelautan dan perikanan.
Di sisi lain, dampak positif investasi ini langsung dirasakan oleh masyarakat. Selama periode Januari–Desember 2025, arus modal yang masuk berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja Indonesia. Hal ini membuktikan peran vital investasi sebagai motor penggerak ekonomi riil.
Dominasi Luar Jawa dan PMDN
Pemerataan pembangunan mulai menampakkan hasil. Berdasarkan data, investasi di luar Pulau Jawa lebih mendominasi dengan nilai Rp991,2 triliun (51,3 persen). Sementara itu, Pulau Jawa menyumbang Rp940 triliun (48,7 persen).
Selanjutnya, dari sisi asal modal, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) ternyata lebih unggul dibandingkan asing. PMDN mencatatkan angka Rp1.030,3 triliun (53,4 persen), sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp900,9 triliun (46,6 persen).
Sektor Unggulan dan Negara Investor Terbesar
Investor menaruh minat besar pada beberapa sektor strategis. Pertama, industri logam dasar dan barang logam menjadi primadona dengan capaian Rp262,0 triliun. Kemudian, disusul oleh sektor transportasi dan telekomunikasi, serta pertambangan.
Mengenai asal negara investor, Singapura masih kokoh di posisi puncak dengan nilai investasi USD17,4 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok, Malaysia, dan Jepang. Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus menyederhanakan perizinan dan menjaga iklim usaha agar momentum positif ini berlanjut hingga 2026.