Jl. Pattimura No. 1

Gedung MPP Bumi Sentang Lantai 2

Kabupaten Sintang 78611

08.00 - 15.00

Senin-Jumat

 

Hilirisasi Mineral Kritis Indonesia 2026: Fokus Baru pada Daya Saing Global dan Investasi

Fase baru dalam industri mineral kritis Indonesia kini telah dimasuki. Setelah pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian banyak dilakukan, perhatian utama industri saat ini dialihkan pada aspek yang lebih menentukan daya saing. Struktur pasokan, keekonomian pengolahan, harga, pembiayaan proyek, kualitas produk hilir, hingga kemampuan Indonesia dalam memenuhi standar rantai pasok global kini menjadi isu yang sangat diperbincangkan.
 
Isu-isu krusial tersebut dibahas secara mendalam dalam International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS): Indonesia 2026 yang diselenggarakan pada 27–30 September 2026 di Bali. Forum bergengsi ini diinisiasi oleh Fastmarkets yang bekerja sama dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Acara ini dirancang untuk mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, perusahaan pengolahan, produsen material baterai, lembaga keuangan, hingga pelaku perdagangan komoditas dari berbagai negara.
 

Peta Jalan Hilirisasi dan Capaian Investasi Semester I 2026

"Peta jalan pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis telah disusun oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, dengan estimasi kebutuhan investasi yang mencapai USD 618,1 miliar hingga tahun 2040," ujar Heldy Satrya Putera, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Beliau menambahkan bahwa sektor mineral dan batu bara telah diidentifikasi sebagai salah satu peluang terbesar dalam peta jalan tersebut.
 
Saat ini, pengembangan hilirisasi Indonesia diketahui sedang bergerak melalui tiga tahapan strategis. Fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian telah dibangun selama ini. Kini, prioritas telah dialihkan ke Tahap Dua, yaitu perluasan pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya.
 
Perubahan fokus ini terjadi seiring dengan skala investasi hilirisasi Indonesia yang semakin membesar. Pada Semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp300,1 triliun telah dicapai, atau setara dengan 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Angka ini tercatat tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari nilai tersebut, penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp212,8 triliun (70,9 persen) telah diserap, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp87,3 triliun (29,1 persen) telah terealisasi.
 

Tantangan dan Peluang dalam Rantai Nilai Global

Dari capaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang signifikan telah dicatatkan oleh Indonesia dalam mengembangkan industri hilirnya. Peluang luar biasa juga dimiliki untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai mineral kritis global.
 
Tahap selanjutnya yang harus ditempuh adalah mendukung pasar yang kompetitif, menarik investasi jangka panjang, dan memastikan kebutuhan pembeli global dapat dipenuhi oleh produk-produk Indonesia.
 
"Kolaborasi yang solid antara pemerintah, industri, dan komunitas investor akan sangat diperlukan untuk mewujudkan potensi tersebut, dan ICMMS 2026 telah disediakan sebagai forum strategis guna menyatukan berbagai perspektif ini," jelas Catherine Oates, Managing Director Fastmarkets.
 

Agenda Utama ICMMS 2026: Dari HPAL hingga Standar ESG

Besarnya investasi yang telah ditanamkan menyebabkan pembahasan hilirisasi dialihkan dari sekadar pembangunan fasilitas menuju bagaimana industri dapat memproduksi produk yang kompetitif dan terhubung dengan pasar global. Dalam konteks mineral kritis, persoalan yang dikaji mencakup asal bahan baku, biaya pemrosesan, penetapan harga produk, identifikasi pembeli, hingga standar yang harus dipenuhi untuk menembus pasar global.
 
Beberapa topik kunci yang dibahas dalam ICMMS 2026 meliputi:
  • Kebijakan dan Pasar Nikel: Isu kebijakan nikel, kekuatan harga, disiplin pasokan, dan aturan perdagangan.
  • Keekonomian Pengolahan: Struktur biaya High Pressure Acid Leaching (HPAL), daya saing asam sulfat, dan pilihan teknologi pengolahan nikel.
  • Pengembangan Produk Hilir: Ketersediaan teknologi, kualitas produk prekursor dan katoda, kepastian keekonomian proyek, serta daya saing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
  • Standar Perdagangan Global: Pemenuhan standar Environmental, Social, and Governance (ESG), keterlacakan rantai pasok, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), dan Human Rights Due Diligence (HRDD).
 

Kesimpulan: Daya Saing Melampaui Kepemilikan Sumber Daya

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan mineral kritis di masa depan tidak hanya berlangsung pada tingkat kepemilikan sumber daya. Persaingan juga ditentukan oleh kemampuan dalam membangun rantai nilai yang efisien, menyediakan produk dengan spesifikasi yang dibutuhkan pasar, memperoleh pembiayaan, mengelola biaya produksi, serta memenuhi standar yang diterapkan oleh pembeli dan negara tujuan.
 
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan mineral kritis di masa depan tidak hanya berlangsung pada tingkat kepemilikan sumber daya. Persaingan juga ditentukan oleh kemampuan dalam membangun rantai nilai yang efisien, menyediakan produk dengan spesifikasi yang dibutuhkan pasar, memperoleh pembiayaan, mengelola biaya produksi, serta memenuhi standar yang diterapkan oleh pembeli dan negara tujuan.
 

Kontak

Alamat

  • Jl. Pattimura No. 1 Gedung MPP Bumi Senentang Lantai 2
    Kel. Tanjung Puri Kec. Sintang,
    Kabupaten Sintang,
    Kalimantan Barat 78613
    Indonesia
 

Pengunjung

Hari ini1144
Minggu Ini1144
Bulan ini22290

sintangsintang
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sintang
Ikuti
Survei Kepuasan masyarakat
(SKM)